Rabu, 13 Maret 2013

Sinopsis Novel Hati yang Damai (karya Nh. Dini)


Identitas novel
Judul               : Hati Yang Damai
Karya              : Nh. Dini
Penerbit           : Gramedia
Tahun              : 1998
Tebal buku      : 89 halaman

Sinopsis
            Dati adalah istri dari seorang penerbang yang bernama Wija. Besuamikan seorang penerbang memiliki pengalaman batin tersendiri bagi Dati karena suaminya selalu berdampingan dengan maut, dan bagaimana ia ingin menyelamatkan suamiya dari tangan maut dengan cinta. Tapi ia sadar tidak mungkin bisa menyelamatkan suaminya, ia hanya bisa berdo’a dan berharap kalau suminya akan kembali dengan selamat. Sebab ia menikah dengan Wija hanya rasa wajib jadi seorang istri. Tapi Dati masih menyimpan cinta yang lain ia berselingkuh dengan mantan pacarnya sewaktu main musik di kota yang bernama Sidik ia juga dekat dangan Nardi tapi Dati memutuskan cinta segitiga ini dengan menikahi Wija sosok lelaki yang ia anggap sebagai suami yang cocok buat dia. Perkenalan Dati dengan Wija diawali ketika ada suatu pameran model pesawat yang diadakan oleh pandu-pandu udara. Bersama rombongan regunya Dati selalu berusaha untuk tidak melewatkan kesempatan-kesempatan seperti itu. Dati tidak pernah mengetahui siapa namanya sampai beberapa minggu kemudian. Setelah sekian lama tak bertemu siang itu Dati baru pulang dari kerja ia belum sempat makan ketika ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya didepan pintu lalu Dati membuka pintu teryata Wija ada di sana yang baru pulang dari Bali.
            Wija mengungkapan apa yang ada dalam hatinya dan ia melamar Dati dan akhirnya mereka menikah setelah dua bulan wija lulus dari pendidikan. Mereka mendiami asrama bersana kawan-kawan yang lain. Diantara mereka ada yang sudah berkeluarga ada juga yang masih bujang.aku semula masih terkejut dan merasa asing dengan kehidupan barunya bertetagga banyak orang. Wija tiba-tiba mencium Dati di depan teman-temannya matanya memandang ku dengan penuh rasa cinta. Selang beberapa tahun mereka mempunyai dua anak Atni dan Anto.  Asti adalah istri dari kakak dati yang biasa dipanggil dengan Mas Jat karena sama-sama sibuknya dan asti seing ditinggal Mas Jat kelur kota akhirnya asti juga memiliki cinta yang lain ia sering jalan dengan pejabat-pejabat tinggi dan salah satunya adalah sidik. Setelah beberapa bulan menikah ayah Wija meninggal. Pada saat pemakaman ada seorang perempuan cantik tiba-tiba muncul mendekati suamiku dengan tersenyum. Aku heran siapa dia? Teryata perempuan itu adalah ibu Wija yang meninggalkannya sewaktu masih kecil demi meneruskan usaha ayahnya di sumatra.  Semenjak itulah kebahagiaan mereka lenyap ibunya pindah ke Sumatra dan hidup di sana tanpa menerima surat cerai dari suaminya. Ayah wija kembali ke Denpasar. Dan wija tumbuh dengan segala cintanya terhadap ayahnya. Dia baru mengetahui semua itu ketika ia menengok ayahnya yang sedang sakit keras, kemudian beberapa hari lagi datang kepadaku. Sebenarnya wija tidak ingin menceritakan semuanya karena ia tidak ingin mengulangi kesedihan dan tidak mau dikasihani.
            Aku kembali ke Jakarta beberapa hari kemudian. Ada hal-hal yang kudegar. Pendaratan pasukan Pemerintah Pusat sudah dilakukan di Padang. Aku bertannya-tanya dimana suamiku sekarang. Beberapa orang mengatakan, bahwa sebagian regu dipindahkan  berpangkalan di Palembang, sebagian lagi masih di Medan. Sesudah sebulan ditinggal Wija, akhirnya aku agak tenang. Keluar berbelanja kekota dengan Sus dan kawan-kawan suamiku dan anak-anakku. Kadang-kadang kebioskop dengan Sidik dan Atni jika ada film anak-anak. Sidik tampak terkejut ketika mendengar tentng kematian Asti. Ketika kecelakaan itu terjadi, ia sedang kongres di Surabya. Aku tak tau apa yang dipikirkannya. Dia hanya berkata,”Jadi,  beginilah akhir kehidupannya. Perempuan yang malang” suaranya perlahan. Seperti diucapkannya di panggung sandiwara, perlahan dan terang untuk mencapai telinga penonton.
            Sore itu aku sudah gelisah menunggunya. Anakku tak sabar lagi berngkat. Aku suah berjanji membawanya ke bioskop bersama sidik. Ketika lonceng penjagaan berdentang tujuh kali, aku sudah berputus asa. Dan aku berbuat berbagai cerita untuk menenangkan Atni. Lalu kami seperti biasa berkumpul di ruang tamu dan mendengarkan radio. Aku menyelesaikan beberapa sulaman baju anakku. Kudengar  ada jib berhenti didepan rumah. Tapi aku tidk berdiri dari kesibukanku. Aku kira salah satu dari kawan-kawan suamiku yang ada di kompleks asrama utara. Biasanya mereka datang beramai-ramai untuk membawa anak-anakkukeliling lapangan, atau kemudian duduk di teras bermain kartu atau gitar. Ternyata yang datang adalah Nardi aku terdiam memandangnya dia berdiri di depanku dengan senyum amat menyenangkan. Tangannya diulurkan kepadaku. Darahku disirap memanasi muka. Tapi aku segera menyambut tangannya. Dia menggenggam tanganku dalam kedua tangannya  sambil masih tersenyum memandangiku. Aku, setelah agak bisa menguasai perasaanku, kemudian membalas senyumnya. Wajahnya adalah wajah yang tenang, yang memberi kepercayaan bagi kedamaian.
            Ia memadang kedua anakku yang duduk diarah radio bersama pengasuhnya. “Kita akhirnya bertemu lagi disini”, dia menyambung. Lalu dia bercerita. Dia kini menjadi dokter di Angkatan Laut. Dia bertemu suamiku dalam rapat perwira. Dia melihat fotoku dan anak-anakku. Lalu berjanji akan datang kerumah. Aku mengikuti ceritannya dengan kediamanku. Kupandangi wajahnya, aku merasa ada kesamaan orang ini dengan suamiku. Kemudian aku menemukannya: ketenangan dan kedewasaan yang menyeluruh wajah keduannya. Pengucapannya sangat mengelakkan ketika pandangannya bertemu dengan mataku. Suamiku menitipkan sebuah surat yang berisikan bahwa beberapa hari lagi ia akan pulang. Dia juga berkata jika banyak regunya yang pindah ketimur, berpangkalan di Ambon. Pada akhir suratnya itu dia berkata bahwa Dokter Nardi itu sangat baik kepadanya.”Dia muda dan semangat,”katanya. “Dia mengatakan bahwa kau kenal dia. Sebab itulah surat ini aku berikan kepadanya. Kalau kau memerlukan apa-apa, minta sajalah kepadanya”.
            Tepat seperti dulu Nardi datang dengan surat atau titipan dari sidik. Nardi yang dulu selalu kaku pandangannya yang seolah-olah akan canggung menghadapi kehidupan masyarakat didepannya, kini ia daang dengan membawa surat dari suamiku. Sikapnya riang dan mengerti seperti Wija. Wajahnya cerah seperti suatu keteduhan pohon yang rindang tempat orang melepas lelah. Kemudian malam itu kami rayakan dengan berkeliling kota bersama anakku Atni. Dan Atni bercerita kalau dia sebetulnya akan pergi kebioskop dengan bibi dan paman Sidik. “Jadi, dia masih disini. Dan kau masih mencintinya” dia berkata tanpa menatapku. Matanya memandang kealam yang suram. Langit diramaikan oleh titik bintang yang banyak jumlahnya.
            Aku menjadi dewasa oleh waktu dan lingkunganku, Dati. Kau tak perlu takut padaku. Aku dulu pernah mengguncangkan kepercayaanmu aku minta maaf, aku tidak malu sekarang meminta maaf. Tapi aku rasa memang lebih baik begitu. Kau kini menjadi istri Wija. Dia orang baik, kau tidak patut mengkhianatinnya. suaranya lembut sungguh-sungguh membujuk. Sore itu aku sendirian dirumah. Kepala agak pusing. Anak-anakku dibawa Sus dan Medi ke kompleks Utara, ketempat kawan-kawan lainnya. Sidik datang membawa karcis film yang mau dilihat malam itu tapi aku menolak untuk pergi. Teryata Sidik mengantarkan istrinya ke dokter makanya dia tak datang.
            Malam itu aku tak bisa tidur suara pesawat yang mendarat dan berangkat dengan tiba-tiba, suara jib dan mobil mondar-mandir. Aku berpikir pasti terjadi sesuatu, tiba-tiba jib berhenti di depan rumah ternyata Harja yang berpakaian lengkap dinas jaga malam. Tangannya yang panjang merangkul bahuku sambil berkata membujuk “Tidurlah. Mereka akan segera selesai.” Apa yang sedang terjadi? Pesawat Kapten Suwandi hiang. Hatiku seperti ditusuk sesuatau. Kami berpandangan dengan kaku. Kepalaku kutundukkan, aku merasa pusing dan menarik nafas panjang. Aku merasa lantai rumahku bergoyang. Dan aku berpegang ke lengan Harja. Aku pergi kedokter seorang diri setelah selesai kulihat dia ersenyum.” Baru dua bulan” rasanya aneh suamiku memang menginginkan memiliki tiga orang anak sekarang terwujud.
            Malam itu aku keluar dan duduk dikursi panjang. Aku memandang kesemua tempat dengan pikiran ang kosong. Tiba-tiba tedengar suara seseorang berkata “kau sudah sembuh” teryata itu sidik. Sayup dan beningnya suara itu menyelinap hatiku. Dan akhirnya aku tenggelam dalam lorong hitam. Aku adalah istri terkutuk yang mengingkari kesetiaan dan kecintaan suamiku. Sudah empat hari aku menggu kabar suamiku mereka masih mencari keberadaan pesawat yang jatuh. Asrama kosong yang ada hanya perempuan,anak-anak dan para penjaga. Ada sebuah mobil datang aku sudah tau itu siapa. Kemudian mendekatiku tapi aku membuang muka dan menghindari bibirnya. Tiba-tiba aku muak ingin muntah, aku jijik melihatnya. Aku benci. Perasaan yang tak pernah timbul kini mencuat dari dalam hatiku. Tapi dia memegang tanganku kuat-kuat, aku harus lepas! Aku mau melepaskan diriku. Kulihat Nardi berdiri didepan pintu, kemudian seorang lagi Wija. Aku terpaku. Aku melihat ia tegap, utuh. Tangannya diikat keleher oleh selembar kain putih, beberapa luka kecil dimukannya.
            Seketika aku ingin lari kepadanya dan memeluknya tapi tanganku masih dipegang olaeh Sidik. Aku memandang Nardi matanya meneriakan kebencian yang tak terhingga kearah Sidik. Disinilah mereka kini ketiga-tiganya, dengan masing-masing kepribadian yang berbeda saling berusaha memiliki aku, istri yang tak setia. “ Aku tau kau masih mencintainya. Tapi aku juga tau bahwa mencintai itu memang mudah. Untuk saling mengerti itu sukar.” Aku berjanji Dati kalau aku akan kembali, kini aku kembali. Kepada siapa lagi aku datang hanya kau dan anak-anakmu yang kumiliki. Kami berpandangan, pertannyannya sangat menyedihkan hatiku. Kututupkan jari-jari tanganku kebibirnya, dan kupeluk dia. Kurapatkan kepalaku kedadanya dengan terisak. Sebuah kekuatan yang sejuk mengaliri perasaanku. Kemudian aku menyadari kedamaian dan ketengan yang dibawanya kepadaku. Aku mencintainya. Dan aku mencium jari-jari tangannya yang luka, yang tidak masuk dalam balutan.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. please answer my question................................................................................................................ thanks

      Hapus